Para pekebun biasanya memanen sengon pada umur
5-6 tahun, namun dengan sistem tunggul sengon dapat dipanen saat berumur 3
tahun. Awal penanaman sengon dilakukan dengan menanam bibit dimana dengan pupuk
hayati organik dapat mempercepat dan memperkokoh tanaman yang dilakukan 4 kali
dalalm setahun untuk penyemprotan. Karena pupuk hayati banyak mengandung
sejumlah mikroorganisme yang menyediakan sumber hara bagi tanaman, merangsang
sistem perakaran agar berkembang sempurna, dan memperpanjang umur akar. Pupuk
hayati terbukti mendongkrak produksi jagung, meningkatkan jumlah tomat kualitas
A dan memperpanjang umur simpan dendrobium.
Sengon yang dipanen setelah lima tahun tanam,
ditebang dengan menyisakan pangkal batang setinggi 10 cm dari atas permukaan
tanah kemiringan potongan batang 45 derajat. Bila luka potong itu mendekati
rata dengan tanah, maka tunggul akan mati, bila terlalu tinggi dikhawatirkan
tunas yang muncul mudah tertiup angin sehingga gampang roboh. Sudut kemiringan
45 derajat untuk mencegah genangan air di atas luka tebangan saat hujan, karena
jika bekas tebangan lembab maka tunggul akan busuk sehingga mempengaruhi
pertumbuhan tunas dan tunggul.
Dari tunggul itulah
akan muncul beberapa tunas yang akan diseleksi dengan mempertahankan satu tunas
terbaik, bebas hama dan penyakit, berbatang lurus dan kokoh serta dekat dengan
permukaan tanah yang mempercepat penyerapan sumber hara, dan tunas akan cepat
menyatu dengan tunggul utamanya. So kelebihan dari sistem tunggul adalah masa
panen lebih cepat akibat pertumbuhan tanaman bongsor,tidak memerlukan pembelian
bibit baru hingga 3-4 kali panen, dan memiliki akar yang kuat karena berasal
dari indukan pertama,,sangat menguntungkan bukan untuk investasi dan sekaligus
penghijauan.
Sumber: Majalah Trubus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar